Minggu, 06 Mei 2018

Connecting the Dots and Creative Risk Taking (Question No. 8 & 9)


Last time I connected a couple dots, specifically in my workplace in 2014. I worked for an NGO in Indonesia and involved as program coordinator for ‘giving-back program’. We found that there is a huge gap between youth who live in the urban areas (more access to resources, national activities, and education) and countryside. Then, we invite influencers from 33 provinces to have a national summit in the capital city, and find out, what we can do solve this problem. We tried to figure out what is the root problem. When we found that connection and communication are the two top issues, then we decided to set-up a website that enables us to communicate internal and external. Internal means, every member has an account, so communication, slow but sure, will be solved. External means collaboration opportunity with another organization, whether profit or not-for-profit organization. we connect the element of technology to solve the communication problem. Then, followed by running the massive social project in all province across Indonesia, called ‘giving back program’, which are conducted by local young people. We facilitate the leaders and influencer to do, explore and create their social project and give then a mentoring program called, ‘incubator for social changer’ in capital city once a month.


We have connected a couple of dots through this program, including local young people, experts in the capital and local, technology element, sustainable funding, social impact, local culture, the social condition in the countryside, local behavior, and many more. From here, our creativity has developed by partnering with some local and national NGO, private and government sectors. Now, our projects can be seen through this website; http://www.g-mb.org/giving-back-programs.html


However, I realized that there is always risk behind creativity. Previously, I viewed that a risk-taker and creative person will not be the same. However, after having some read in this unit, I understand that even in the implementation process of creativity, the risk is inevitable. According to Byrd & Lockwood (2003), there is a significant relationship between creativity and risk-taking (essential variables) in the innovation equation (Innovation = creativity x risk-taking). In other words, innovation only can be developed when there is a creative and brave enough to face the risk. However, it is important to have a planning before quickly decide to quit from a ‘safe zone’ that we have already comfortable with. There is a process that might be essential to be considered, before we leave the comfort zone, such as jobs or selling the property, etc. This is what explained by Ellsberg (2018) as start with a small thing continuously, getting feedback in the process to become big risk-taker.


Reference:
Bigthink 2018, The necessity of creative risk taking, viewed 2 May 2018, http://bigthink.com/in-their-own-words/the-necessity-of-creative-risk-taking
Byrd, J., & Brown, P 2003, The innovation equation: Building creativity and risk taking in your organization, San Francisco, CA, Jossey Bass.
Kelso, S., & Engstrom, D 2006,  The complementary nature. Cambridge, MA: MIT Press.

Jumat, 29 Desember 2017

Lebih penting mana? PROSES atau HASIL?

Apakah daun yang menguning dan jatuh merasa kalah dengan hawa dingin di musim salju?

Atau salju yang mencair merasa takluk oleh hangat mentari saat musim semi menghampiri?

"Memang begitu siklus hidup. Kau kira kau akan begitu selamanya; hidup, merekah, hebat, nyatanya kau tergantikan. Atau sebaliknya, kau pikir kau kalah, padahal sejatinya kau hanya mengurangi jatah gagal untuk menuju suksesmu"

Yang ku tau, dalam siklus kehidupan, tak ada kemanangan mutlak ataupun kekalahan telak; yang ada hanyalah tahap-tahap yang mesti dijalani. Semua adalah proses, toh kita hidup di dunia ini juga hanya sebentar kan? Kalo hati dan pikiran manusia mulai bisa memahaminya, maka ia akan bebas dan menerima masa lalu nan sulit, nggak akan terlena dengan saat penuh kemenangan, yang hakikatnya semua akan berlalu, berganti

Janji Allah pun begitu dalam Al-qur'an:
"Yang sehat akan sakit, yang muda akan tua, yang kaya akan miskin, yang lapang waktunya akan sempit, hingga akhirnya, yang hidup akan mati", nah terus kalo udah mati kemana? (Nanti kita bahas di tulisan yang lain ya :)

Kembali ke proses dan siklus dalam hidup ini, jadi bagi seorang petarung, arena pertandingan hanyalah media pembuktian. Menang atau kalah tak jadi masalah, karena mentalnya tetap berpegang pada harga diri dan kehormatan, meski ia berada pada pihak yang kalah dalam pertandingan yang sesaat itu. Justru dengan kekalahan itu ia bangkit, bangkit untuk kembali menyusun strategi, belajar dari kesalahan, kembali menyelami proses, hingga akhirnya muncul sebagai "pemenang sementara" pada arena pertandingan selanjutnya. Namun satu hal yang pasti, mentalnya akan "selamanya menang"

Manusia seperti ini nggak akan pernah "kalah", karena jiwa tetap utuh.
Manusia seperti ini tak kan "tersingkir", karena ia tak hentikan langkah sampai mendapat hasil yang dituju.
Prosesnya dihargai, namun hasil akhir telah dikunci mati, dan tak ada yang bisa mematikan bara semangatnya saat berproses dalam hidup dan dengan kehidupan.

Manusia seperti ini tidak akan menyalahkan siapapun atas semua yang terjadi dalam hidupnya.
100 kali ia jatuh, 101 kali ia bangkit.
1000 kali ia gagal, 1001 kali ia mencari alasan untuk tetap bertahan dan kembali masuk ke arena pertandingan.
10000 kali ia ditolak cintanya, 10001 kali ia akan membuktikan bahwa ia layak dicintai sebagaimana ia mencintai.

Manusia seperti ini hidup tanpa harus takut pada apa yang akan terjadi di hadapannya kelak, dan rumus ini sudah disebut berulang kali lintas zaman, lintas generasi.

Ingat bagaimana Muhammad SAW berproses dalam hidupnya, lahir tanpa ayah, dikencingi karena dakwahnya, dibenci oleh orang2 sekitarnya, hingga menjadi buronan untuk dibunuh karena visi dan misi nya dalam hidup; mendakwahkan islam.

Untuk kaum perempuan, ingat bagaimana Maryam di coba berulang kali oleh Allah? Sejak kecil sudah ditinggal ayah dan dibesarkan oleh pamannya, Zakariya. Wanita haik-baik yang menjaga kehormatannya, namun melahirkan anak (Isa As) tanpa suami. Bayangkan cobaan yang datang dari sosial dan lingkungannya saat itu.

Atau masih ingat bagaimana Muhammad Ali meyakini bahwa dirinya adalah juara dunia meski jutaan mata menganggapnya remeh? Bagaimana dengan Malcolm X yang justru dengan mental bajanya mengubah perspektif dunia tentang kesamaan hak antara mereka yang berkulit hitam dan putih?

Hal yang sama juga terjadi pada nama besar seperti, Muhammad Al Fatih, Ibnu Shina, Margaret Tatcher, Hittler, Mao Zedong, Goerge W. Bush, Vladamir Putin, Erdogan, Soekarno, dan lainnya

Apalagi yang kau keluhkan, kawan?
Setiap kesulitan diikuti dengan kemudahan (innama'al usri yusro), bahkan di ulang dua kali dalam surah Alam Nasyrah (QS 94: 5-6).

Kalah dalam pertempuran atau kehilangan semua yang kita anggap miliki kita, akan membawa kita pada saat-saat penuh kesedihan. Jangan galau, tak perlu cemas dan merintih berlebihan. Jalanilah, lalui dengan senyum, karena setelah semua itu berlalu kita bakal nemuin kekuatan tersembunyi dalam diri, ketangguhan yang mengejutkan dan tak jarang membuat kita lebih menghargai diri sendiri.

foto ini diambil di Bright, Victoria, saat menunggu sunrise dan ide tulisan ini muncul

Jadi intinya, hanya mereka yang gagal mengenali kekuatan dan kelebihan diri sendiri yang akan berkata, "aku kalah" dan sibuk menacari "tumbal" atas kekalahannya. Tak jarang sekarang banyak yang melampiaskannya di social media. #anakzamannow

Meneteskan air mata terkadang perlu, namun jangan biarkan setan mamanfaatkan keadaanmu dan masuk mecemooh; mengasihani kondisi diri.

Kita perlu menelaah mana yang salah dan mana yang benar dari tindakan kita. Manfaatkan momen kekalahan untuk beristirahat, sembuhkan luka-luka, rancang strategi baru, buat persiapan lebih baik, hingga pertandingan selanjutnya datang menghampiri. Karena kesempatan hanya datang bagi mereka yang siap. Maka persipakna dirimu dengan baik untuk menghadapi pertandingan selanjutnya.

Manusia pemenang adalah dia yang meng-HARGAI PROSES, namun tetap FOKUS pada HASIL.

Kamis, 14 Januari 2016

We Call it "Acomodador"

Dalam hidup kita sering dihadapkan pada berbagai situasi tak terduga, terkadang diatas ekspektasi, namun tak jarang bertentangan dengan rencana dan impian. Apapun itu, semuanya harus dihadapi dengan SABAR dan SYUKUR. Ya… selalu bersabar dalam kesyukuran tatkala berada di atas, ketika usaha dan doa bertemu dengan kesempatan dan hasil yang diatas rata-rata dan jangan pernah berhenti bersyukur dalam bersabar menunggu situasi berbalik dan meng-aamiini semua ikhtiar (usaha) dan doa kita.

Butuh pengendalian diri yang kuat untuk menghadapi situasi tak terduga dalam hidup seperti itu, termasuk untuk tidak menyerah pada keadaan dan tetap berlaku seperti biasa; membuat orang-orang disekitar kita senang dan tidak khawatir berlebihan pada diri kita. Exactly… karena naluri alamiah manusia adalah keinginan untuk menyenangkan atau membahagiakan orang lain, apalagi orang yang dicintainya, termasuk jika orang lain itu adalah diri mereka sendiri.

Dan untuk kesempatan kali ini, karena banyaknya email yang masuk dan bertanya tentang "How to deal with our big problems", maka kita akan membahas tentang saat-saat manusia berada dibawah atau masalah besar atau Titik Menyerah dalam hidup or, we call it Acomodador.

Terinspirasi dari sebuah buku karya Paulo Coelho, yang direkomendasikan oleh salah seorang mentorku, menyebutkan bahwa
"Acomodador atau titik menyerah; selalu ada dalam hidup dan kehidupan manusia yang akan menghalang-halangi kita pada kemajuan. Bentuknya bisa diawali dengan suatu trauma, kekalahan yang sangat menyakitkan, kehilangan hal yang amat disayangi, kekecewaan dalam cinta, bahkan kemenangan yang tidak kita pahami bisa membuat kita menjadi pengecut dan menghambat kita untuk berpikir dan bergerak maju".

Ya.. aku sepakat, dan melalui titik menyerah inilah ketidakyakinan itu merasuk diri, menembus lintas batas jaringan dan susunan syaraf dalam tubuh; hawa nafsu dan rasa malas terus bergumul menjadi sebuah keputus-asaan yang berakhir pada pengeluhan dan rasa tidak bersyukur pada hidup; disaat seperti ini tanpa disadari kita tengah membuka pintu selebar-lebarnya dan mempersilahkan setan masuk dan mengisi relung-relung jiwa. Ya.. setan sangat suka pada posisi dimana manusia mulai berhenti dan putus asa dari Rahmat Allah; baik dalam keadaan sedih ataupun senang. So, everybody.. jangan pernah biarkan Acomodador  membuat kita semua lupa diri (uncontrol) ya. Bersedih karena kegagalan; harapan yang tak kunjung tercapai, atau bahkan tidak menemukan jawaban yang dicari dalam hidup adalah hal yang sangat general dan umum terjadi pada keumuman manusia. Namun yang membedakan manusia cerdas dengan manusia standar adalah bagaimana mereka mencari, menemukan dan mempercayai jalan keluarnya. Dan semua itu tidak akan pernah ada habis-habisnya kecuali kita mengikatkan diri pada Rahmat Allah, dimana pun dan kapan pun.

Acomodador.  Itu cocok dengan pengalamanku belajar memanah. Pelatihku mengatakan tidak ada tembakan anak panah yang bisa diulangi, dan tidak ada gunanya belajar dari tembakan bagus atau tembakan buruk (melesat). Hal yang paling baik dilakukan adalah mengulang-nguang ratusan dan ribuan kali, sampai kita mampu membebaskan diri kita dari usaha untuk mengenai sasaran; melebur menjadi busur, anak panah dan bantalan sasaran itu sendiri. Maka disaat itulah “kolaborasi kekuatan” dan keyakinan kita akan  memandu gerakan untuk melepaskan anak panah. Bukan saat kita menginginkannya, tapi saat “kolabolarasi kekuatan itu” yakin bahwa saatnya telah tiba.

Sama seperti hidup. Memaknai tujuan tertinggi dalam hidup ini bukan hanya sekedar dari pekerjaan atau bahkan identitas sosial yang dianggap bagus, sukses atau buruk dan gagal (rendah), karena itu hanya perspektif manusia yang sifatnya sementara (fana). Tak pernah ada kata berhenti; berislam adalah berproses untuk semakin mengenal dan dekat dengan Sang Pencipta; membaca dan memahami apa yang ada di sekeliling kita adalah ikhtiar (upaya) yang kita lakukan untuk mengenalNya. Dan itu pula alasannya mengapa ayat pertama yang diturunkan Allah adalah “Iqra”, “Bacalah”. Setelah kita mampu mengkolaborasikan setiap makna yang terkandung pada makhlukNya yang ada disekitar kita, merasakan sepersekian dari kekuatan dan kehadiranNya melalui lingkungan kita; maka disaat yang tepat, tujuan tertinggi dalam hidup itu akan tercapai. Sulit untuk dideskripsikan secara lugas dan jelas, sampai kita benar-benar mau meleburkan diri pada setiap “pesan dan kekuatan” yang harus kita baca di lingkungan sekitar.



Acomodador. Aku kembali teringat bagaimana kondisi keluargaku saat aku ingin sekali melanjutkan kuliah di tahun 2010 silam. Saat itu alm. Ayah sudah 5 tahun lebih pensiun dari sebuah perusahaan gas di Aceh, Adikku masih sekolah SD. Pilihannya adalah aku atau adikku yang melanjutkan sekolah. Secara logis, aku memilih adikku, dia lebih membutuhkan dana untuk pendidikan dasarnya saat itu. Namun bukan berarti aku menyerah; membiarkan kesedihan berlama-lama bersarang dalam tubuh kecil ini; menyalahkan orang tua; kemudian keputus-asaan muncul dan bersemayam dalam diri; hingga mengundang setan untuk terus merasuki pikiran dan hati; dan disinilah “drama kehidupan yang tidak kuinginkan itu akan dimulai dan dikuasai oleh setan dan nafsu buruk”. Tidak, aku memilih untuk tidak membiarkan Acomodador itu hadir dalam Diary kehidupanku. Ya,, itu pilihanku. Aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu 2 jam perhari untuk mecari informasi beasiswa dan menyiapkan segala hal yang kubutuhkan untuk mendapatkannya, mulai dari surat rekomendasi, 3 sampai 4 essay yang kutulis berulang-ulang hingga kuanggap cukup baik, tak lupa nilai rapot yang terus kujaga agar tidak melesat dari target dan sasaran beasiswa yang kuinginkan, dsb. Hingga saat semua teman-temanku sibuk mendaftar kuliah di PTN ini dan itu, Alhamdulillah, aku sudah mengantongi lebih dari 8 beasiswa di PTN dan PTS dalam dan luar negeri.  Akhirnya kuputuskan untuk merantau ke Yogyakarta, berkuliah di UGM jurusan Sastra Jepang. Tak lama atas izin Allah aku mendapat tawaran beasiswa dari Universitas Paramadina, dan aku pindah ke Jakarta memenuhi panggilan studi di Jurusan Hubungan Internasional itu.

Acomodador. “Selalu ada kejadian dalam hidup kita yang menghalangi tujuan, harapan, kemajuan, dan cita-cita kita”

Aku sampai pada kesimpulan, bahwa secara sunnatullah, Acomodador/Titik Menyerah dalam hidup itu pun kita yang menentukan. Allah memberi kita kesempatan untuk memilih sekaligus ujian untuk menentukan sejauh apa kita menggantungkan diri pada RahmatNya, bukan pada keegoisan diri, atau bahkan pada kesombongan atas kemampuan kita. Harus diakui bahwa dalam hidup ini, segala sesuatu pasti ada sunnatullahnya (usaha). Jika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha. Semakin kita kuat dan keras menguasahakannya, maka teori SESTAKUNG (Semesta Mendukung) pun almost akan berlaku. Percaya deh ;) 



Therefore, buat teman-teman yang merasa saat ini atau akan menghapai Acomodador dalam hidup, tidak perlu khawatir. Semua tetap menjadi keputusan kalian, guys. Mau menghadapi dan menyelesaikan permasalahan itu dengan cara pengecut atau sebaliknya. Berhenti menyalahkan orang-orang dan lingkungan sekitar kita. Lihat apa yang salah di diri kita, strart from ourselves, atau kalo bahasa kerennya ibda' binafsih (mulai dari diri sendiri) and we will find how to win the others, included the problems are.

Minggu, 04 Oktober 2015

Pemilik Cinta


Duhai hati...
Kau benar tentangnya..
dia bukan orang yang sedang kutunggu
bukan dia pula jawaban
dari penantian ini

Ya... Bukan...
Ingin kukatakan pada dinding yang membisu
biar dia redam jeritan hati yang kian mendengung
dalam relung hati...
Apa daya....
Tak kuasa kubendung amarah
yang dihembus angin.. jauh.. entah kemana

Duhai Pemilik Hati..
Engkau Sang Pemilik Cinta
di atas segala Cinta..
Bantu aku tuk kembalikan Cinta ini pada Fitrahnya
Kepada Sang Pemilik Cinta
Agar tenang hati ini dalam penyempurnaan diri
hingga saatnya tiba

Jakarta, 4 Oktober 2015
23:59 WIB, SAR

Kamis, 13 November 2014

Tempatmu Bukan Disini, Tempatmu Di Indonesia



Diskusi pagi ini di SBS bersama Mas Ricky adalah agenda yang tidak direncanakan namun sangat membekas. Setelah menyelesaikan berita untuk 2 segmen, Saya dan Mas Ricky memutuskan untuk menikmati indahnya suasana pagi di SBS ditemani kopi hangat, sebelum take recording di studio. Well, I like it, very much. Dalam suasana hangat dan penuh semangat, kami duduk di tengah ruangan lantai dasar, tempat dimana sebagian pegawai lainnya, talent, host, pembawa berita, bahkan manager divisi berlalu-lalang. Nggak ada suasana gosip-menggosip, semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing; mengejar deadline, tugas, semuanya harus selesai tepat waktu dan "on time". Yeah… disini diskusi aneh itu dimulai. Random sih sebenarnya, tapi mencakup semua hal yang ingin aku tahu untuk saat ini.

Diskusi dimulai dengan membahas 2 hal yang membuatku "stres" dan menjadi pikiran, pagi siang malam, selama beberapa hari disini adalah :
1. Bahasa. "Waduuhh,,, beruntung banget ya mereka yang terlahir di negera yang menggunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang terbiasa dari kecil dengan kehidupan yang serba independent, lingkungan yang disiplin, bersih, praktis dan sejenisnya"
2. Sistem. "Betapa majunya sistem disini, dalam hal apapun; transportasi, infrastruktur, pendidikan, kesehatan. Bahkan hanya untuk sekedar membayar parkir saja, dilakukan di awal dan tidak lagi dengan tenaga manusia, semuanya dengan mesin, dan itu benar-benar bikin bingung abisss !!! Mau parkir aja ribet euuyy.. -,-'
Pembahasan mulai menarik ketika Mas Ricky menceritakan tentang bagaimana beliau bisa pindah dan tinggal di Australia, sudah 40 tahun lebih di Australia dengan modal awal hanya 2000 AUD. Can you imagine that ???  As we know, di zaman Soeharto terjadi rasis yang sangat tinggi di Indonesia, China cukup sulit mendapat tempat di masyarakat, sehingga mas Ricky (yang merasakan zaman itu) dengan kondisi keuangan yang kurang begitu baik memutuskan untuk pidah sekolah ke Australia, dengan hanya membawa uang 2000 AUD. Satu-satunya alasan memilih Australia adalah karena murah, setidaknya untuk saat itu. Hm… sebenarnya di Jerman juga murah sih, tapi bahasanya itu loh,, bikin puyeeng. 
Mas Ricky stres berat selama 1 bulan pertama karena "Bahasa", same with me. Ahahah, umum banget terjadi ya pada semua orang. Then, ia mulai menghafal minimal 3-4 kosa kata baru di setiap harinya untuk memperbaiki bahasa Inggrisnya. Well, he did it hingga ia lulus sebagai Sarjana Enginering dan mulai bekerja. Good suggestion, I'll try it 
Menit berlalu berganti jam, dan sampai pada pembahasan mengenai keinginanku untuk melakukan hal yang sama. Yap, Aku ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, melihat dunia luas dengan lebih bijaksana, make up my mind, and find mysef, bahkan to good to be true kalo aku bisa tinggal di menetap di luar negeri ! Wow,,, it will be great !
But, Did you know what he has said to me ?
Mr. Ricky : "Sher, kalau kamu berpikir akan jadi seorang profesor, yeah you can. Atau mungkin seorang profesional ? I trust, u can reach it faster. You like entertainment ? You have gotten it. But, tempatmu itu bukan di luar negeri. Tempatmu itu di Indoensia. Indonesia butuh kalian para pemuda. Bayangkan jika Tuhan menganugerahkan kemampuan pada manusia dan kita membatasi diri untuk mengembangkan kemampuan itu ! Betapa egoisnya kita sebagai manusia !
2 hal yang akan menghalangimu kalo kamu di negeri orang : 1. Kamu perempuan dan 2. Kamu bukan orang lokal. Hanya 2-3 orang Asia yang bisa jadi Menteri sepanjang negara Australia ini merdeka. Ayolah, berpikir lebih visioner, Sher ! Jangan egois… (sambil tersenyum)
Sherly : "Whaatt ? What did you mean ?"
Mr. Ricky : "Think it by yourself, please"
Sherly : "Homework again ?? Arrggghhh !!!!"

Jangan egois ! Berpikir lebih visioner ! Indonesia butuh kalian para pemuda ! Semua itu berputar-putar di otakku di sisa hari ini. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk menjadi seorang menteri atau apalah itu sejenisnya. Bagiku hanya menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain di dunia ini saja, that is enough for me ! But, Thank you so much to Mr. Ricky, yang sudah sedikit membuka kacamata kudaku, mengajakku sedikit mengawang-ngawang pagi ini. Yeah !! Now, I believe that Indonesia needs us, KITA PARA PEMUDA !
So, yang merasa dirinya masih muda, tunggu apalagi ?? Ayo kita upgrade diri, buat loncatan-loncatan besar dalam hidup, dan berikan yang terbaik untuk Indonesia.
Diskusi pagi kami berlanjut pada pembahasan "the process how to be", and "find yourself", dan "how to manage our expectations and dreams". Bikin terkaget-kaget, Mas Ricky adalah spv-ku, tapi seperti ngomong dengan teman sendiri. 1 qoute yang masih berbekas : "setelah kamu selesai dengan 1 target, maka selesaikan target lainnya. Atau buat satu target tertinggi jangka panjang, dan lewati satu per satu "the goal-stairs"-nya. Kuncinya satu, jangan cepat puas. Explore yourself and you will find who you are, Sherly".
Exactly ! Setiap manusia memiliki naluri alamiah untuk menginginkan sesuatu, impian, cita-cita, dan itu harus. Tanpa itu hidup akan terasa flat, manusia tidak akan bisa melakukan sebuah pencapaian dan hasrat bahkan perubahan. Manusia juga di anugerahkan nafsu, sehingga ketika sudah mendapatkan sesuatu, kita selalu ingin lebih dan lebih. Ini yang harus dijaga. That is why, kenapa kebanyakan manusia menjadi tamak, serakah, bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan; korupsi salah satunya. ;(. So manage our nafsu well 
Walillahilhamd, Thank God for this great morning 
Sydney, 13/11/2014
(Sherly Annavita)

Selasa, 11 November 2014

Mulai Dari Kangguru Hingga Pak Jowoki ;)


Well… Hari yang indah harus punya pengalaman baru yang indah pula.
Hari ini Richard mengajakku ke Kebun Binatang, melihat beragam Fauna Australia. Kangguru dan Koala ! Segala macam yang berkaitan dengan dua binatang ini langsung menjalar di saraf di otakku, berpindah dari satu sinapsis menuju akson dan berakhir di neuron, mentransfer semua keinginanku yang membuncah untuk hanya sekedar bisa berfoto, memberikan makan dan memeluk dua hewan ini.


"WELCOME to Featherdale Wildlife Park", Yah,, itu dia tulisan besar yang menandakan bahwa kami sudah sampai. 30 dollar untuk bisa melihat kangguru pertamaku (harga tiket masuk), kurasa nggak masalah :)
Daaannn,, benar saja. Kangguru menjadi binatang pertama yang aku temui, seolah penata kebun binatang ini tau bahwa setiap turis yang datang pasti ingin sekali melihat hewan berkantong besar itu. Sebahagian mereka ada yang dilepas dan sebahagian lagi ada yang dibiarkan duduk di kamar yang benar-benar ditata mirip dengan habitat asliya. Disini kami boleh memberi makan kangguru dengan membayar 1 dollar untuk setiap 1 cup makanannya.  And yeah,, this is it : Me and My first Kangguru :)



Perjalanan menjelajah kebun binatang ini bukan selesai sampai disini, justru ini baru saja dimulai. Ahahaha… What a large one ! Setelah Kangguru, Koala menjadi santapan mata yang sangat menenangkan. Antusiasku seolah ditertawakan oleh binatang yang super duper malas ini. Ahahaha…. Binatang ini tidur hampir 18 jam dalam sehari. Wow !! Semangatku dibayar dengan tontonan kepulasan tidur mereka. Setelah mencari kesana-kemari akhirnya nemu juga satu koala yang "masih" bangun. Kutatapi muka dan pandangan mata mereka, "duhh,, apa hidupmu nggak bosan ? Waktumu hanya dihabiskan untuk makan dan tidur ? Lantas kenapa tatapanmu jauh banget ? Mikirin apa sih sebenarnya ?". Koala aja mikir dan menatap jauh ke depan, kenapa kita sebagai manusia enggak ?
Ahahaha…Untuk mengingat dan mengabadikan moment ini, aku mensubstitusikan kata pemalas dalam bahas Indonesia menjadi "koala". Contoh : "Tika, ayoo dong, jangan Koala banget !" atau "Dasar Koala !" terdengar lebih unik namun bermakna dalam, karena akhirnya aku tahu betapa koala ini adalah binatang yang amat tidak produktif (itu perspektifku sih), hehe… Setelah puas menjelajah kebun binatang, burung hampir semua jenis burung ada), hewan melata (mulai dari ular sampai kadal, lengkap deh pokoknya), Karnivora (harimau dajn teman-temannya), hewan ternak (segalam macam kambing, ayam, domba, sapi hingga babi), dan Tazmania. Yap ! Memoriku langsung mengingat film kartun lucu Tazmania. Betapa animasi Tazmania dalam kartun itu bohong, karena tazmania yang asli mirip Babi, tidak sama seperti yang digambarkan dalam kartun itu yang lucu dan menggemaskan. Hahahah…
Setelah puas, kami kembali pulang.

Sorenya, kutepis segala lelah dan kumenangan rasa ingin tahu. Ahahah… Aku menyempatkan keliling kota dan menemukan satu bangunan menarik di tengah kota, Castle Hill Library. Kulempar rasa malu jauh-jauh dan mulai melangkah masuk ke dalam gedung unik itu. "Masyaa Allah, WOW !!!..." kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku sambil menganga. Anak-anak SMA dan kuliah bertebaran di seluruh sudut perpustakaan, mencari bahan referensi, membaca, menulis, mengetik, dan diskusi. Ingin sekali rasanya menjadi bagian dari suasana asik dalam perpustakaan yang dilengkapi dengan caffe super murah di dalam ruangan. Jadi sambil beraktifitas juga bisa minum kopi, kurang apa coba ? Aku mencari satu sudut kosong untuk duduk, namun tak kunjung kutemukan. Semua tempat duduk nyaris terisi penuh, betapa culture membaca menjadi landasan dasar peradaban Castle Hill. Ahaha,,aku menyebutnya sebagai Peradaban Castle Hill setelah menemukan salah satu artikel di perpustakaan itu yang menyebutkan bahwa kota ini memang dibangun untuk jangka waktu panjang. Diperkirakan bahwa ditahun 2030 nanti, lebih dari 100 juta orang dari seluruh dunia akan pindah ke wilayah ini (salah satu suburb di Sydney). Aku membandingkannya dengan kota Jakarta, totally different. Bagaimana kota Jakarta dibangun dan dikembangkan dengan kurang persiapan, sehingga jadilah seperti sekerang, Banjir dimana-mana, macetnya juga nggak ketalangan, belum lagi adegan urbanisasi massa yang terjadi di Indonesia dan Jakarta menjadi sasarannya. Setiap dendrit dalam sel sarafku menghubungkannya semua fakta ini pada Blue Print-nya Pak Jokowi sebagai Presidnet baru Indonesia. "Semoga Bapak dan Para Mentri Kabinet Gotong Royong punya Blue Print yang bagus untuk lima tahun ke depan. Kami anak muda dan masyarakat Indonesia siap membantu asal tujuan dan goalnya jelas, Pak !", pikirku. Setelah puas membaca dan menggeladah perpusatakaan modern ini, aku memutuskan untuk kembali dan menyiapkan makan malam untuk Richard dan Anne, keluarga baruku di Sydney. Beruntung aku bertemu teman baru saat diperjalan pulang, Nahid Bakhsi, Gadis cantik asal Pakistan.

Sydney,
Sherly Annavita

Senin, 10 November 2014

Help !!! I Can't Understand



Today is Sherly's first internship day and will be the induction day in the SBS. SBS, Seven Billions Stories and Counting (TV and Radio), is the company where Sherly has been accepted to take an internship a long 2 weeks in Sydney. How lucky of her :)

(10/11/2014)
i have prepared everything since yesterday; some information about SBS, the histories, background, internal and external programs of this company. I wake up early morning, and very enthusiasm for today. Mr Ricky, my spv, take me, tika and Richard at 8 o'clock and they go to the SBS togather. Tika and Richard walk around the city while I am in the office.

How nervous I am ! I am the only one who use headscarf and the youngest in that room and also I am afraid about my language. Yap ! Australian have a little bit different aksen. Well… the induction is started at 09:30 o'clock through a leadership and collaboration case study which is lead by John, the OD for this induction day. We have to discuss about how a community or some people group can be succes and useful to people around not to theirself. I am so surprised when all of the team member give their opinion enthusiastically, no matter how old you are and how long you have worked in SBS, everybody respect each other. There are not only Australian in that room, but also Filipinos, American, Spaniard, Scotland, Indian, and Pakistan. The Managing Director is Egyptian. So, can you imagine how diverse we are ? 
John show us about SBS's values and behaviours. We also discuss about how to find solutions and tahe reponsibility for outcomes work. Don't look to blame and others or circumtances, what Indonesian often do. How to provides feedback in a constructive way. Awesome :)


In the middle of induction, I am stress because to understand what they are talking about I have to think twice. It is very fast pronountation and I can not understand it. The words and dictions are new for me, I never hear almost of them before. But I was forced to see and understand because it will be a cases study and test at the end of the session. Arrghhh,,,, I am under pressure now. Really stressful in this situasion.



In the morning tea, I am lucky because Margy, An Ausralian from social media department, ask me to join her to go to the caffetaria. Huaaaa,,, this is way how to make clear what I can not understand in the last session. Very kind of Margy, She tell me slowly so I can see. The class is continued until 1:20 pm and we have a lunch time. Ahahaha… how poor of me. I think I have to learn and increase my english more. I feel so small and nothing here, while in Indonesia almost I have gotten what I need and want. I can speak Indonesia well, so it was so easy to me to say something, opinion, suggestion. I can get some good job easily, performed and showed in TV, have a good relationship with some inspirational people in Indonesia, but it totally different here, when I meet some people from other countries, work together professionally. I just like a litle girl in the box. How wide this world is and how small I am. This internship really open my mind. I am embarrassed. Really deep thinking.

They also give me a special room to have a Dzuhur pray. This is what we call respect each other. I have 30 minutes to take Dzuhur Pray and come back to the room as usual, have lunch, and we start again in 2 pm. I am lucky to be here. Let see and go to outside Sherly. :)